Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan - TNP2K
Kebijakan Percepatan

PERKEMBANGAN TINGKAT KEMISINAN DI INDONESIA

Pada tahun 2009 dengan tingkat kemiskinan sebesar 14,15 persen, jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan adalah sebesar 32,53 juta individu. Angka ini cukup besar khususnya jika dibandingkan dengan jumlah orang miskin di negara-negara tetangga. Ini menjadi tantangan yang mendapat perhatian di awal periode pemerintahan SBY-Boediono. Selain perlambatan penurunan tingkat kemiskinan dan jumlah orang miskin, kerentanan kemiskinan juga merupakan masalah tersendiri.

Seperti ditunjukkan pada Gambar 2, distribusi pengeluaran per kapita per bulan terkonsentrasi di sisi kiri. Ini berarti bahwa selain penduduk yang tergolong miskin –di sebelah kiri garis kemiskinan—kelompok penduduk yang tidak miskin namun hanya sedikit di sebelah kanan garis kemiskinan masih cukup besar. Kelompok penduduk inilah yang dinamakan kelompok rentan miskin. Untuk kelompok rentan miskin, guncangan ekonomi yang relatif kecil sekalipun dapat menjadikan mereka kembali menjadi miskin. Dari data Susenas, dapat ditunjukkan bahwa pada tahun 2009, jumlah orang miskin dan rentan miskin mencakup paling tidak 40 persen dari total populasi Indonesia saat itu. Ini berarti 4 dari 10 orang Indonesia tergolong miskin atau rentan miskin. 

Gambar 2. Distribusi Pengeluaran Rumah Tangga Indonesia 2010

Sumber: Susenas (2010)


Selain isu di atas, isu lain yang terkait dan juga mendapat sorotan pada awal pemerintahan SBY-Boediono adalah masalah memburuknya kesenjangan pendapatan. Seperti ditunjukan pada Gambar 3, angka rasio Gini —yang merupakan indikator kesenjangan pengeluaran rumah tangga—di Indonesia cenderung meningkat sejak awal 2000.

Di awal periode pemerintahan SBY-Boediono tahun 2009, rasio Gini mencapai 0,37. Angka ini walaupun nampaknya tidak terlalu jauh dari angka tahun sebelumnya, namun telah menembus ‘batas psikologis’ rasio Gini Indonesia yang selama bertahun-tahun cenderung pada kisaran 0,35–0,36. Situasi ini jika terus berlanjut dalam jangka panjang dapat memunculkan permasalahan ekonomi dan sosial. Memburuknya kesenjangan pendapatan menunjukan bahwa kelompok pendapatan atas tumbuh lebih tinggi dibandingkan kelompok pendapatan bawah.


Gambar 3. Rasio Gini di Indonesia 1999 - 2014

 

Rasio Gini Nasional 1999-2014

 

Apa yang menjelaskan kesenjangan/ketidakmerataan antar kelompok pendapatan? Analisis data Susenas 2008 dan 2012 menunjukkan bahwa pertumbuhan pengeluaran kelompok masyarakat 40 persen termiskin walaupun positif namun berada jauh dibawah 20 persen masyarakat terkaya. Seperti ditunjukkan pada gambar 4 di bawah, pengeluaran kelompok masyarakat 40 persen termiskin tumbuh sekitar 1,8-2,1 persen, sementara pengeluaran kelompok masyarakat 20 persen terkaya tumbuh sekitar 5,1-8,5 persen.   


Gambar 4. Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat 2008 – 2012 

Sumber: TNP2K

Selain isu terkait dengan kemiskinan dan kesenjangan, isu lain yang juga mendapat sorotan adalah mengenai ketepatan sasaran program-program penanggulangan kemiskinan. Seperti ditunjukkan pada Gambar 5, hanya sebagian dari rumah tangga sasaran—daerah diarsir warna biru—yang memperoleh program Raskin, BLT dan Jamkesmas.

Di sisi lain pada Gambar 5 juga ditunjukkan ada rumah tangga bukan sasaran—tidak miskin dan bukan rentan miskin—yang ternyata memperoleh program. Kesalahan dimana kelompok sasaran/penerima manfaat tidak menerima program disebut sebagai exclusion error, sementara kesalahan dimana kelompok bukan sasaran ternyata menerima program disebut dengan inclusion error. Tingginya angka exclusion dan inclusion error berpengaruh pada efektivitas program sekaligus menunjukkan adanya yang perlu diperbaiki pada basis data untuk pensasaran program, desain dan mekanisme program.

Pada tahun 2008, kinerja pensasaran program masih jauh dari baik. Analisis data Susenas menunjukkan bahwa pada tahun 2008 hanya 30 persen penduduk miskin yang menerima tiga program —Raskin, BLT dan Jamkesmas—sekaligus.

Gambar 5. Ketepatan Sasaran Program Penanggulangan Kemiskinan 2008

Sumber: Susenas 2008, diolah.

Kembali ke atas

Loading...
Tutup