Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan - TNP2K
Program

Human Interest Stories: Konflik Mencair, Kerjasama Menguat: Perubahan Hubungan antara Guru dan Masyarakat di Desa Petebang Jaya

“Hati-Hati, Di Larang Jatuh Rumah Sakit Jauh,” itu adalah coretan menggunakan cat semprot di salah satu jembatan menuju Desa Petebang Jaya, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kata-kata tersebut nampaknya cukup mewakili bagaimana buruknya kondisi jalan dan minimnya fasilitas pendukung di sana. Petebang adalah satu dari banyak desa terpencil di Ketapang yang belum memiliki jaringan listrik, air, serta jaringan komunikasi. Keterbatasan ini merupakan salah satu alasan di balik kemangkiran guru di SDN 14 Petebang, khususnya yang berasal dari luar desa. Lambat laun, kemangkiran  guru menyebabkan kejengkelan masyarakat yang berbuntut ketegangan. Tidak adanya pola komunikasi antar pihak yang intens dan reguler turut mempersulit keadaan.

KIAT Guru hadir di tengah kuatnya kecurigaan, kekecewaan, dan rasa tidak percaya antara penyedia dan pengguna layanan pendidikan di Petebang. Yanti, Fasilitator Kecamatan KIAT Guru di Tumbang Titi, menghadapi tantangan berat untuk mengubah skeptisme dan memperoleh dukungan terhadap program. Dengan sabar, Yanti mendekati orang-orang yang berpengaruh di sekolah dan masyarakat satu per satu. Ketegangan yang terjadi akhirnya dapat teratasi dengan komunikasi yang dijembatani oleh Yanti dalam sejumlah forum bersama. Kedua belah pihak saling menyampaikan kekecewaan, keluhan, kendala yang dihadapi, sekaligus ide-ide perubahan untuk menciptakan kondisi yang lebih baik. Mulai ada rasa saling mengerti dan menghargai yang memunculkan kemitraan. Dengan pendekatan yang halus, secara perlahan respon positif menguat. Kesepakatan Layanan dalam meningkatkan kualitas pendidikan berhasil diwujudkan sekitar 5 bulan sejak Yanti pertama kali hadir. Kesepakatan itu memuat poin-poin pembagian peran antara sekolah dan masyarakat. Menurut Demung (tokoh masyarakat) Petebang, kerjasama yang mulai terjalin ini sama sekali tak terbayangkan sebelumnya akibat buntunya komunikasi yang telah menahun.

 

Guru dan orang tua mengadakan pertemuan guna melakukan evaluasi pelaksanaan Kesepakatan Layanan

Mei 2015, 10 bulan setelah kesepakatan terbentuk, para guru dan masyarakat Petebang kembali duduk bersama untuk mengevaluasi pelaksanaan Kesepakatan Layanan. Acara yang dihadiri 27 orang itu berlangsung cair dan produktif dengan durasi sekitar 3,5 jam. Masing-masing pihak menyampaikan upaya perbaikan yang sudah mereka lakukan, apa kendala dan tantangan yang dihadapi, bagaimana capaiannya, serta rencana tindak lanjut ke depan. Dalam pertemuan evaluasi tersebut, sejumlah kesepakatan dihapus, ditambah, dan dipertahankan sesuai relevansinya. Contoh yang dihapus adalah kesepakatan menyusun tata-tertib sekolah secara bersama antara guru dengan masyarakat. Masyarakat menyerahkan urusan tata tertib kepada pihak sekolah agar lebih efisien dari sisi waktu. Walaupun demikian jika dirasa perlu masyarakat tetap dapat menyampaikan masukan secara langsung atau melalui kotak saran. Sedangkan contoh yang ditambah adalah kesepakatan khusus untuk kepala sekolah yang sebelumnya disamakan dengan guru kelas. Hal itu dianggap penting karena tugas dan peran kepala sekolah berbeda dengan peran guru. Di samping itu, ada pula kesepakatan baru untuk orang tua yakni secara kolektif berupaya membentuk perpustakaan desa. Harapannya, dapat dimanfaat untuk mengisi waktu senggang anak sepulang sekolah. Apalagi hingga kini SD Petebang belum memiliki perpustakaan sekolah karena ketiadaan buku bacaan.

Kondisi peningkatan kualitas pendidikan di Petebang tampak berubah cukup drastis ke arah yang positif jika dibandingkan 10 bulan sebelumnya. Kemangkiran guru mulai menurun dan kinerjanya meningkat. Seluruh pihak saling mengapresiasi kontribusi masing-masing dan saling memberikan dukungan. Pola komunikasi yang membaik ini diakui oleh orang tua dan guru turut berdampak positif terhadap proses dan capaian belajar murid. Misalnya, sejumlah murid yang dulu belum bisa membaca dan berhitung, sekarang sudah bisa karena dukungan dari guru di sekolah dan pendampingan belajar oleh orang tua di rumah.

"Orang tua selalu mendampingi anaknya belajar dan anak-anak pun lebih bersemangat dalam belajar," ujar salah satu orang tua dalam pertemuan evaluasi Kesepakatan Layanan.


“Kini anak-anak makin antusias bersekolah karena kelas sudah jarang kosong. Guru kini lebih rajin hadir dan juga mengajar lebih baik. Hal itu membuat anak-anak lebih bersemangat. Di samping itu, anak-anak kini juga mulai rutin belajar di rumah dengan didampingi orang tua. Kami senang melihat anak-anak giat belajar. Semoga kelak nasib mereka lebih baik dari kami,” ujar Erwanto salah seorang warga dalam pertemuan evaluasi Kesepakatan Layanan.

Cerita dari Desa Petebang mengingatkan kita satu hal penting, bahwa bangsa ini punya modal pembangunan yaitu kebersamaan, keguyuban, atau kegotong-royongan. Benih itu sempat layu di Petebang. Kini mereka kembali memupuknya, merawatnya, dan mulai menuai hasilnya di bidang pendidikan. Kolektivitas adalah jawaban efektif atas segala keterbatasan dalam pembangunan.

Kembali ke atas

Loading...
Tutup