Program


Human Interest Story

Tak Perlu Menunggu Purnama

Siang itu, seorang perempuan sedang menggendong dua anak balita, sambil duduk di ruang tamu berlantai tanah. Namanya Debora Hauteas (33 tahun), ibu rumah tangga, yang memiliki lima anak, buah pernikahannya dengan Marten Tanesab (35 tahun). Marten bekerja sebagai petani dan peternak. Kedua balita yang digendongnya adalah Yiswi (3 tahun) dan Esra (1 tahun). Tiga anak lain: Eber (8 tahun), Yiswa (7 tahun), dan Liventri (4 tahun), saat itu sedang bermain bersama teman-teman mereka di halaman rumah.

Sebagai ibu rumah tangga, Debora menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus rumah dan mengasuh anak-anaknya, sementara suaminya mengurus kebun serta ternak. Saat ditemui, Debora baru saja pulang dari Pasar Tuapakas, yang berlangsung setiap hari Kamis, sedangkan suaminya masih berada di kebun. Ketika hari pasar, ia sering membawa hasil tani ke pasar untuk dijual. Kemudian, uangnya dipakai untuk membeli kebutuhan sehari-hari: lauk-pauk, garam, gula, dan sebagainya. “Sekarang cari uang susah jadi saya harus bantu suami,” katanya.



 

Sebelum menggunakan LTS sebagai penerangan utama keluarga Tanesab menggunakan pelita untuk belajar bagi anak-anaknya atau pun menenun.

Setelah LTS terpasang Debora dan suaminya sangat senang karena rumahnya menjadi terang. Sebelumnya, rumah berukuran sekitar 8x6 meter persegi yang mereka huni sangat gelap pada malam hari. Sebelumnya, mereka menggunakan pelita di setiap ruangan, namun cahayanya tidak cukup terang dan menjangkau seluruh ruangan. Keterbatasan ini membuat mereka tidak bisa beraktivitas lebih banyak setelah makan malam. Biasanya, Debora mulai memasak untuk makan malam pada pukul empat sore, anak-anak makan sekitar pukul enam. “Anak-anak saya yang masih balita takut gelap. Jadi paling lambat lambat pukul tujuh malam mereka sudah tidur,” tutur Debora.

LTS sangat membantu Debora dalam mengasuh kedua anak balitanya. Sebagaimana balita pada umumnya, kedua anaknya sangat rewel jika terbangun pada malam hari. Debora mengatakan, ia sangat kesulitan menghadapi anaknya jika terbangun tengah malam. Akan sulit menenangkan anaknya dalam keadaan rumah yang hanya diterangi pelita. Kesulitannya akan bertambah jika kedua anak balitanya rewel secara bersamaan. “Mereka akan terus menangis sampai kecapaian baru bisa tidur kembali,” keluh Debora. Beruntung jika bulan purnama, suasana di luar terang dan ia akan membawa anaknya keluar. Anaknya lebih cepat tenang jika dibawa keluar saat bulan purnama.

 

Ibu Tanesab di desa Oemaman, Timor Tengah Selatan, setelah mendapatkan bantuan LTS dapat melanjutkan menenun di malam hari.

Sekarang setelah ada LTS, ia tak perlu lagi membawa anaknya keluar jika anaknya menangis tengah malam. Apalagi, malam tak selalu ada purnama. “Saya hanya perlu membersihkan atau menyusui saja. Nanti kasih menyala lampu, dong langsung tidur kembali,” kata Debora dengan semringah, dengan dialek khas Timor. Untuk membersihkan anak yang mengompol pun jauh lebih mudah dan bersih. Ia bisa langsung membersihkan ompol anaknya, tak perlu menunggu hingga esok hari, karena cahaya LTS bisa menerangi bagian belakang rumah, tempat tampungan air berada.

Tidaklah mudah menjadi seorang ibu dengan lima anak yang masih kecil. Debora mengaku sangat kewalahan terlebih ketika suaminya tidak berada di rumah. Kini, setelah ada LTS, bebannya menjadi lebih ringan. Anak-anaknya bisa belajar dan bermain dengan aman, sementara ia menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang lain.

LTS membuat anak balita Debora dan Marten tak lagi rewel di malam hari, sebab kini terang tak perlu lagi menunggu purnama.

Mulai Mengembangkan Kios Semenjak ada LTS

 

Markus Lenamah adalah seorang kepala keluarga berusia 33 tahun beristrikan Norlin  Anamtuan yang juga berusia 33 tahun. Pasangan suami istri ini dikaruniai 3 orang puteri. Rumah keluarga ini terletak di Dusun A RT 04 RW 02 Desa Tliu. Bapak Markus bukan saja sebagai seorang petani namun adapun usaha lain untuk menambah pendapatan di dalam rumah yaitu membuka kios. Karena letak rumahnya yang strategis di dalam desa maka bapak tersebut berpikir untuk menangkap peluang tersebut yaitu membuka kios.

Setelah adanya LTS kiosnya dapat beroperasi 24 jam sehingga penghasilan meningkat. Hasil keuntungan kios pun dapat membuat dirinya memperluas usahanya yaitu, usaha tambal ban.

 

Lampu LTS ini mendatangkan manfaat yang cukup besar bagi Markus. "Saya sangat bangga karena dengan adanya pemasangan lampu di rumah kami sekarang saya sudah dapat membuka kios 24 jam. Sebelum pemasangan saya tutup lebih awal karena gelap. Dan kalaupun ada yang datang belanja pada malam hari kami tidak buka karena takut," lanjut beliau. 

Markus sangat senang karena terangnya lampu LTS membawa berkat atau keuntungan besar bagi keluarga mereka. Semula sebelum pemasangan lampu LTS pendapatannya dalam sehari kurang dari Rp. 100.000,-. Sedangkan setelah adanya pemasangan lampu LTS  sehari ada pemasukan meningkat menjadi kurang lebih Rp. 500.000,-

Dari hasil keuntungannya, Markus menambah jenis barang di dalam kios dan membeli 1 unit mesin kompresor yang dipakai untuk tambal ban dan mengisi angin bagi kendaraan di desanya. Selain itu juga sudah ada penjualan pulsa Hp. Banyak perubahan yang  dirasakan oleh Markus berkat adanya PLTS. 

Perubahan yang dirasakan sangat penting dan berpengaruh besar dalam kehidupan mereka adalah bahwa setelah ada LTS, dirinya tidak berhutang atau meminjam lagi di koperasi. Usaha kiosnya saat ini, sudah cukup baik, dan melalui hasil keuntungan usaha Markus bisa melipat gandakan usahanya.