Program


Human Interest Story: Kartini Muda dari Desa Compang Necak untuk Pendidikan Anak yang Lebih Baik

“Saya perempuan dan saya bangga menjadi Ketua [KPL]…” ucapan kebanggaan ini dituturkan oleh Ibu Alfi, sang “kartini muda” yang telah dipilih oleh masyarakat Desa Compang Necak untuk memimpin Kelompok Pengguna Layanan sebagai perwakilan masyarakat dalam pelaksanaan program rintisan KIAT Guru.

Desa Compang Necak terletak di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Bagi kebanyakan warga Lamba Leda, nama Compang Necak diasosiasikan dengan gambaran desa yang kondisi infrastrukturnya jauh dari layak. Walaupun dihiasi dengan pemandangan indah persawahan, perjalanan menuju desa Compang Necak dari ibu kota Kabupaten Ruteng, penuh dengan jalan rusak berbatuan. Biasanya warga setempat melewati jalan tersebut dengan berjalan kaki atau dengan mobil bak terbuka yang digunakan untuk angkutan umum, yang dinamai oto kol.  

Terlepas dari kondisinya yang sangat terpencil, desa Compang Necak menyediakan sejumlah pelayanan pendidikan dasar dan menengah--swasta maupun negeri--kepada penduduknya yang tersebar di dua dusun, yakni Rewa Maki dan Golo Popa. Termasuk di antaranya adalah SD Inpres Golo Popa. SD ini telah berdiri sejak 1989. Tahun ini, sejumlah 60 murid dan 8 orang guru terdaftar di sekolah tersebut. Karena letaknya di daerah sangat tertinggal, SD Inpres Golo Popa pun terpilih untuk menjadi salah satu dari 32 SD peserta Program Rintisan KIAT Guru di Kabupaten Manggarai Timur. Sebagai terobosan Kemendikbud, TNP2K dan Pemerintah Daerah Manggarai Timur, program KIAT Guru berupaya untuk meningkatkan keberadaan dan kualitas layanan pendidikan dasar di daerah terpencil Indonesia dengan menerapkan tunjangan berbasis kinerja guru yang dinilai oleh masyarakat setempat.  

Desa Compang Necak memiliki jumlah penduduk sekitar 1.653 jiwa dengan komposisi yang hampir seimbang antara laki-laki dan perempuan. Namun demikian, kaum laki-laki dipandang lebih tinggi kedudukannya dibanding perempuan. Sering kali, perempuan diposisikan untuk hanya bekerja pekerjaan dapur atau di ‘belakang rumah’. Keterlibatan warga perempuan di desa hanya dianggap layak jika berkaitan dengan kegiatan PKK atau kelompok arisan ibu – ibu. Jarang sekali perempuan diundang untuk hadir dan memberikan pendapat di dalam pertemuan masyarakat umum .

Meskipun dipandang rendah, sebagai perempuan Ibu Alfiana Pamut yang juga akrab dipanggil dengan nama “Alfi”, salah satu warga Compang Necak, tidak kecil hati. Ibu muda yang berumur 27 tahun ini, usai menyelesaikan kuliahnya sebagai pendidik di STKIP Pembangunan Indonesia Makassar pada tahun 2014, pindah ke dusun Golo Popa karena mengikuti sang suami. Walaupun bukan penduduk asli Golo Popa, Ibu Alfi dirangkul oleh masyarakat setempat terutama karena latar belakang pendidikannya sebagai guru. Di mata Ibu Alfi, anak-anak Golo Popa membutuhkan dukungan dalam membaca, menulis dan menghitung agar dapat menerapkan kemampuan dasar tersebut secara maksimal dalam kegiatan sehari – hari mereka.

 Alfi, Ketua KPL Perempuan Desa Compang Necak

Kuatnya aspirasi Ibu Alfi dalam memajukan pendidikan dasar di desa Compang Necak membuatnya sangat antusias saat mendengar kehadiran dan tujuan program KIAT Guru. Semangat beliau dan beberapa warga perempuan lainnya membuatnya terus hadir dan aktif berpartisipasi dalam rangkaian pertemuan KIAT Guru walaupun tidak jarang mereka mendapatkan ejekan dari kaum bapa-bapa.

Ibu Alfi dikenal sebagai peserta paling vokal dalam menyampaikan usulannya selama pertemuan. Dalam proses penyepakatan janji layanan pendidikan antara pihak sekolah dan masyarakat, Ibu Alfi aktif menyampaikan usulan layanan yang berpihak kepada kebaikan anak; sebagai contoh, beliau memperjuangkan usulan agar guru mengajar tanpa menggunakan kekerasan sehingga anak tidak takut kepada guru. Untuk meningkatkan kemampuan dan kebiasan anak Golo Popa berbahasa Indonesia, Ibu Alfi juga mengusulkan agar guru lebih sering melakukan kegiatan belajar mengajar dengan Bahasa Indonesia yang baik.

Melihat watak kepemimpinan, ketangguhan serta latar belakangnya sebagai pendidik, para guru, orang tua murid serta aparat desa Compang Necak kian mengandalkan Ibu Alfi sebagai sosok yang tepat untuk memimpin Kelompok Pengguna Layanan(KPL) desa Compang Necak dalam memastikan pelaksanaan dan penilaian janji layanan yang telah disepakati.

“Ibu Alfi sangat paham dengan pendidikan anak terutama anak usia sekolah dasar,” ucap Bapa Desa Wenseslaus Rahaman.

Guru Kelas 4 SD Inpres Golo Popa, Pak Servulus Basri menambahkan bahwa, “Dari segi pendidikan, Ibu Alfi sudah layak… dia bisa melihat para guru secara obyektif. Setiap hari Senin dan Selasa, Ibu Alfi ada di PAUD Budi Mulia Golo Popa yang berdekatan dengan SD Inpres Golo Popa sehingga Ibu Alfi bisa melihat secara langsung aktivitas para guru di sekolah.”  

 

Pemilihan keanggotaan KPL Desa Compang Necak pada 2 April 2017

Oleh karena itu, saat penetapan pengurusan KPL pada tanggal 2 April yang lalu yang difasilitasi oleh Kepala Desa Compang NecakIbu Alfi dipilih menjadi Ketua KPL secara bulat dan aklamasi oleh semua peserta pertemuan yang terdiri dari 12 perempuan dan 18 laki-laki. Sebagai ketua, Ibu Alfi bertanggung jawab agar semua anggota KPL melakukan tugasnya dalam memastikan guru dan masyarakat memahami isi janji layanan yang telah disepakati. Ibu Alfi juga memimpin koordinasi antara KPL dengan para guru dalam mengumpulkan informasi dan bukti pelaksanaan janji layanan di sekolah; bukti inilah yang akan digunakan sebagai dasar penilaian kualitas layanan guru yang akan dilakukan setiap bulan dan dikaitkan dengan pembayaran tunjangan khusus kepada guru. Selain Ibu Alfi, telah terpilih juga 4 (empat) kaum perempuan lain sebagai bagian keanggotaan KPL yang saat ini berjumlah 9 orang. 

Lima perempuan yang terpilih menjadi anggota KPL Desa Compang Necak

Peran kartini muda seperti Ibu Alfi mematahkan banyaknya pandangan masyarakat umum tentang ketidakmampuan wanita dalam memimpin dan mendorong perbaikan kualitas hidup dalam lingkungan mereka. Terlepas status sosialnya sebagai perempuan yang masih muda, Ibu Alfi tidak takut untuk menjalankan tugasnya sebagai pemimpin yang telah dipercayai masyarakat. Saat ditanya apa yang akan dilakukannya untuk mendorong masyarakat maupun guru laki-laki dan kaum yang lebih tua dalam memberikan layanan pendidikan yang lebih baik, Ibu Alfi menjawab “…gunakan Bahasa-Bahasa yang baik untuk mendekati mereka.”